Wah,
judul di atas terdengar berani sekali ya? Bukan bermaksud untuk menyindir tapi
hanyalah sebuah motif spekulasi seseorang yang sangat sulit mendapatkan nilai A
di beberapa mata kuliah yang sebenarnya telah mampu dijalankan. Setidaknya
dengan hal ini penulis menyindir dirinya sendiri.
Ya,
perkuliahan itu tidak seribet SMA? Lo kok bisa? Saat duduk di bangku Sekolah
Menengah Atas yang penuh dengan memori, dunia remaja bertumbuh menjadi dewasa dengan
bumbu cinta monyet yang masih terngiang hingga sekarang ini, masalah pelajaran
akan menjadi kompleks untuk diri sendiri. Ya, setidaknya anak-anak SMA lebih
individual dalam mengerjakan tugas sekolahnya ataupun pada saat ulangan, guru
pun akan lebih ketat muridnya tanpa pandang buluh. Lebih jauh menengok
masa-masa SMP dan SD. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa semakin meningkatnya
tingkat pendidikan tingkat behavioral siswa terhadap siswa lain semakin
meningkat juga. Yang tentu saja keadaan tersebut dapat menyentuh beberapa hal
negatif , seperti tingkat kerja sama dalam hal menyontek, mengerjakan tugas
individual sama juga akan meningkat. Sekarang jikakita flashback ke masa di
mana kita berada di sekolah dasar, dengan wajah unyu-unyu kita teman sebangku
kita pun tidak boleh melihat hasil pekerjaan rumah kita.
Dalam
dunia perkuliahan, nilai dihargai dengan harga mati yaitu A untuk nilai 4, B
untuk nilai 3, C untuk nilai 2, D untuk nilai 1, dan E untuk nilai 0. Hal ini
tentu saja menyamaratakan kualitas dan kuantitas penghargaan yang didapat
mahasiswa. Untuk mahasiswa berkemampuan 98 akan dihargai A demikian juga untuk
mahasiswa berkemampuan 80. Bagaimana hal ini dapat dikatakan sebuah keadilan?
Mahasiswa dengan tingkat kerja keras tinggi pun jarang terlihat oleh dosen
pemberi nilai. Menurut saya, beberapa dosen harus melakukan cek and re cek
dalam menilai seseorang mahasiswa, terutama dalam kerja keras dan keseriusan
membuat tugas sebelum menilai hasil dari tugas tersebut. Malu ketika
disekitaran kampus tersebar berbagai slogan dan pendoman anti plagiasi, tetapi
hasil plagiasi masih saja mendapat nilai tinggi. Namun, di sisi lain terlihat
hasil keringat sendiri sesuai kemampuan yang masih dihargai rendah. Sebagai
seorang civitas akademika, berbagai pihak di kampus harus menghargai kerja
keras keringat sendiri. Bukankah itu yang digembar-gemborkan oleh pjadi seara
petinggi kampus?

Berbagai
aspek dapat dijadikan cara untuk mendapatakan penghargaan tertinggi untuk sebuah tugas di
kampus. Nilai akhir semester pun dapat menjadi sebuah pengakalan belaka.
Keabsurdan adanya sebuah nilai pun dapat terjadi karena tingkat kedekatan
denagn dosennya. Tidak dapat dipungkiri lagi, dosen bukanlah seorang guru kelas
yang mengenal seluruh anak didiknya di kelas tersebut. Dosen memiliki banyak
sekali mahasiswa yang mengikutinya. Maka dari itu, mahasiswa dituntut aktif
dekat dengan dosen, sehingga dosen pun dapat mengenalnya secara intensive. Hal
ini sangat menguntungkan mahasiswa karena tidak semuanya mendapat kesempatan
seperti ini. Malanglah mahasiswa dengan cacatan jelek bagi si dosen. Atau
dengan menyesal, malanglah mahasiwa yang tidak proaktif, karena ia hanya
menjadi sebuah catatan nama dan nim bagi dosen.
Hari
ini, penghargaan nilai bukanlah hal yang sulit untuk diraih. Berbagai cara dan
pandangan dapat dengan mudah dilakukan untuk penghargaan nilai tersebut, entah
bagaimana tugas yang telah diselesaikan. Nilai menjadi tidak benilai lagi
secara real dan ketika itu terjadi tidak hanya hard skill yang dapat diandalkan
untuk menghasilkan output yang baik. Nmaun, lebih jelas lagi adalah soft skill
dan keteguhan kepercayaan berupa moral yang kuat untuk menjadi sebuah batu
karang tangguh dalam ekspolarisasi dunia.